Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Selamat Hari Kebebasan Tahun Keempat, Kamu

           14 April 2010 silam, aku mendapatkan sebuah kabar dari ibumu yang mengatakan kamu telah ditemukan karena kamu sempat dinyatakan hilang karena tidak pulang-pulang. Saat itu yang ada di dalam pikiranku hanya, "semoga kamu baik-baik saja."
Tapi keyakinanku mulai goyah saat semua orang malah mengatakan, "mita, emangnya qiqi udah nggak ada?" Aku cuma diam, menggeleng pelan. Tidak sedikit yang mengatakan, "mita, sabar yaa.. Ikhlasin."
Saat itu aku menggangap mereka semua konyol! Aku masih percaya pada harapan konyolku bahwa kamu, sahabatku baik-baik saja.  Ingin rasanya aku berteriak, "hentikan!" tapi aku lebih memilih untuk diam, sebisa mungkin menahan perasaan yang berkecamuk dalam dadaku.
            Akhirnya aku dan teman-teman sekelasku juga ada wali kelas yang ikut serta menuju rumahmu dengan angkot sewaan. Saat itu mendung, angin bertiup lumayan kencang menerbangkan daun-daun kering. Hawa yang berbeda yang kurasa. Terlalu kelabu dan aku sudah sadar sebenarnya hari itu adalah hariku berkabung. Tapi aku masih mengelak, aku masih yakin. Bahwa semua itu adalah bohong. Semua itu adalah sandiwara kehidupan lalu Tuhan berkata, "ini semua hanya sandiwara dan aku adalah sutradaranya."

            Kami tiba di depan rumahnya, sudah banyak wartawan berkumpul pada saat itu. Ada sebuah suara asing yang parau bercampur pilu yang kudengar memanggil, "mana yang namanya mita?" , aku baru tahu bahwa suara itu adalah suara ibumu. Ia memelukku erat, sangat erat. Ia lalu terisak dalam pelukanku. Ia berkata, "mita sabar ya, qiqi udah nggak ada." Disitu tangisku pecah. Badanku lemas, kakiku bergetar. Semua yang kurasa seperti sebuah mimpi. Aku menangis sejadinya, entah harus menyalahkan siapa. Kenapa harus secepat itu?
Aku dan Ibumu saling menguatkan satu sama lain. Posisi kami sama pada saat itu, sama-sama kehilangan orang yang sama. Bedanya, ibumu kehilangmu--anak yang beliau sangat cintai sedangkan aku kehilangmu--sahabat yang begitu aku sayangi. Kami berdua berusaha saling menguatkan satu sama lain. Aku tahu ibumu jauh lebih sedih dan pilu lebih daripadaku, karena selain kehilangan dirimu beliau juga kehilangan adik yang ia cintai yang juga pergi bersamamu dalam kecelakaan itu. 

            Kakiku bergetar saat perlahan aku memasuki sebuah tempat yang aku tahu itu adalah tempat untuk memandikan jenazah. Guru agamaku, menyibakan kain putih itu dan aku melihatmu sudah tergeletak dalam tidur panjangmu. Seketika aku lemas nyaris pingsan pada saat itu. Aku masih sadar dan mendengar suara orang-orang, dan aku merasakan tubuhku digotong oleh beberapa orang dan aku ditidurkan di sebuah bangku panjang. Dan aku bahkan tidak sempat melihatmu dikafani dan di sholati, aku terlalu lemah untuk menatapmu untuk yang terakhir kalinya. Setelah semuanya selesai, kami semua pergi ke pemakaman yang tak jauh dari rumahmu dan kami semua menghantarkanmu ke tempat peristirahatanmu yang terakhir. 

              Sejak kepergiamu, aku tak henti menangis. Mataku terlalu sembab. Aku menutup diriku sendiri. Aku bahkan tidak percaya lagi pada siapapun termasuk pada hidupku. Terasa berlebihan memang, saat itu aku merasa duniaku seakan runtuh esok hari. Kehilangan itu membuat pilu dan luka yang besar dalam hatiku. Sejak hari itu, beberapa kali aku memimpikanmu, kamu tersenyum hangat padaku. Banyak nasihat yang berdatangan padaku. "Ikhlasin, kasian dia nanti disana kalo kamu nggak ikhlas."

          Iya, ngomong doang emang gampang. Tapi mereka nggak tahu gimana rasanya kehilangan kan? Bukan untuk sementara tapi untuk selamanya. Sejak saat itu aku jadi manusia yang paling egois dan menyebalkan. Aku selalu tidak mau mendengarkan siapa-siapa lagi. Aku menarik diriku sendiri dari kehidupan sosial. Memilih untuk menyendiri, memilih untuk tidak percaya akan kata 'pertemanan' lagi. Aku tahu saat itu aku telah salah, membiarkan diriku egois dan menyalahkan diriku sendiri atas kepergiaannya. Iya, aku menyalahkan diriku sendiri atas firasat yang aku punyai tapi malah aku abaikan begitu saja. Seharusnya aku bisa menyelamatkannya, berkata padanya "jangan pergi kesitu, nanti kamu kecelakaan." atau bagaimana setidaknya aku bisa mencegah atau menyelamatkannya dari musibah? terasa seperti di film memang tapi begitulah yang aku rasakan tapi aku lupa, aku hanya manusia biasa. Aku bisa apa? Kalau Tuhan dengan takdirnya sudah menggariskan demikian. Yang aku bisa hanya menerimanya. 
***

               14 April 2014, empat tahun berselang dan tahukah kau? Aku sudah tidak menangis lagi setiap malam loh. Mataku juga sudah tidak sesembab dahulu seperti saat kepergianmu walaupun kantung mataku lebih parah dari dahulu. 
Bukan, bukannya aku lupa mungkin saja aku telah sepenuhnya mengikhlaskanmu. Aku yakin semua itu adalah jalan hidup terbaik yang Tuhan berikan untuk kita. Perpisahan yang tidak indah tapi dengan kenangan manis yang tertinggal rapat dalam ingatan. Aku tak secepat itu bangkit. Perlahan tetapi pasti waktu yang mengobati luka itu, luka atas kehilangan dirimu dan sekarang aku dapat tersenyum seperti saat bersamamu dahulu walaupun bukan bersamamu dan bukan karenamu lagi tapi aku bahagia. 

           Tapi tahukah kau? setiap ingatan tentangmu tiba-tiba hadir, aku tak dapat menahan tetesan air mata yang meleleh di pelupuk mataku. Aku tidak sedih, aku hanya sedang merindukanmu. Konon, kata mereka jika seseorang meninggal di usia muda ia adalah seorang yang baik. Walaupun itu semua hanya mitos, tapi tanpa percaya pada itu semua aku tahu bahwa kamu memang adalah orang yang baik. Mungkin Tuhan terlalu sayang padamu sehingga Dia lebih dahulu memanggilmu, dan selepas kepergiaanmu aku mendapatkan banyak pembelajaran baru yang begitu luar biasanya.

            Aku tahu kini jasadmu telah tiada di bumi ini. Tapi aku tahu kau selalu 'hidup' di sini, di dalam hati dan dalam kenangan ingatanku tentangmu. 
Jika kelak aku tumbuh menjadi seseorang yang besar, aku ingin mereka tahu kau adalah salah satu sejarah penting dalam kehidupanku. Aku tak akan melupakanmu, takan pernah. Aku tak bisa janji padamu. Tapi sungguh, berkatmu aku belajar banyak tentang arti kehidupan dan persahabatan sejati yang tulus walau kebersamaan kita terlalu singkat. 


              Terima kasih banyak dariku untukmu. Selamat bulan april tahun keempat. Selamat hari kebebasanmu! Semoga kamu selalu berbahagia di alam sana, Rizqi Nuryanti Maulida. Aamiin

Aku tahu kau tahu. Aku menyayangimu. Selalu.
Mita Oktavia
Mita Oktavia Lifestyle Blogger yang suka menulis, melukis, bermain game, dan bertualang | Penawaran kerja sama, silakan hubungi ke hello.mitaoktaviacom@gmail.com

Posting Komentar untuk "Selamat Hari Kebebasan Tahun Keempat, Kamu"